Tuesday, February 6, 2018

Ketua BEM UI 2018 Diberi Kartu Merah Oleh Sebagian Rakyatnya Setelah Aksi Nekadnya Mengartu Kuning Presiden Jokowi Dianggap Memalukan UI.



Dari kemarin malam jagad maya Indonesia dihebohkan oleh aksi nekad seorang pemuda yang hatinya terusik oleh kesemrawutan negeri. Zaadit Taqwa yang baru saja naik menjadi Ketua BEM UI 2018 dianggap memalukan almamaternya oleh sebagian rakyatnya sendiri. Saking badainya berita dan #KartuKuningJokowi di seluruh media sosial yang ada, followers instagram @Zaadit naik signifikan setiap detik. Hari pertama sampai 3 hari pasca kejadian followersnya hampir menyentuh angka 30k. Hal ini menunjukkan betapa besar respect rakyat Indonesia terhadap aksi Zaadit.

Berbagai akun-akun kontra pemerintah yang merasa sedang berjuang menegakkan keadilan ramai-ramai membela Zaadit Taqwa. Salah satu yang vokal menyuarakan Zaadit sebagai pahlawan adalah akun @Indonesiabertauhid. Di sisi lain, tidak sedikit warga UI yang merasa Zaadit telah mencoreng muka almamater. Di depan para pejabat tinggi negara, alumni UI, dan rakyatnya sendiri Zaadit bangkit dari duduknya, meniup peluit kemudian mengacungkan buku lagu UI bersampul kuning sehingga dari kejauhan tampak seperti sedang memberi kartu kuning pada Presiden.

Warga UI yang tidak suka dengan aksi Zaadit sibuk mengklarifikasi bahwa aksinya atas nama pribadi, bukan institusi UI. Dari pihak istana negara, Johan Budi mengonfirmasi pembatalan jadwal meeting bersama BEM UI yang seharusnya dilaksanakan setelah pidato Presiden di Balairung UI. Namun pihak BEM UI menyangkal ada jadwal seperti yang dikatakan istana akan membahas beberapa isu strategis.

Sikap bijak diperlihatkan oleh Presiden kita Bapak Ir. H. Joko Widodo dalam menanggapi penyambutan pembesar BEM berpengaruh di seantero negeri ini. Presiden malah bermaksud menyiapkan akomodasi supaya perwakilan BEM UI ada yang memantau langsung kondisi di Asmat, Papua. Mengapa obat-obatan dan bantuan tidak segera sampai dan campak terus mewabah. Menurutnya, pemerintah selama ini terus mengupayakan perbaikan insfrastruktur supaya medan di sana bisa diajak kompromi untuk menyalurkan bantuan kepada penduduk lokal.

Tuntutan lain yang membuat Ketua BEM UI mengambil jalan yang terkesan ekstrim tersebut adalah  isu akan dibatasinya pergerakan mahasiswa di kampus lewat peraturan baru serta wacana dwifungsi POLRI/TNI berlaku kembali. Sebenarnya wajar jika seorang Zaadit mengambil sikap berani tersebut. Sebagai seorang pemimpin dari organisasi yang disegani dan dijadikan teladan ratusan kampus lain, mengecewakan bila dia hanya diam pada saat Bapak Presiden berada di depan matanya. Itu adalah menit-menit emas Zaadit mendapat jawaban atas kegelisahannya selama ini.


Sejak aksi represif pemerintah terhadap personil BEM IPB beberapa waktu lalu, pemerintah dianggap anti kritik dan mahasiswa jadi tampak seperti musuh. Meskipun secara eksplisit para pejabat selalu mengatakan senang ditegur, namun kenyataan penyambutan kritikan yang disampaikan secara damai dan prosedural selalu mengecewakan. Bisa jadi itu pula yang membuat Zaadit merasa harus mengambil tindakan yang mengundang perhatian supaya suaranya didengar dan ditanggapi langsung oleh Presiden.

Bagi seorang aktivis, dapat duduk semeja dengan pejabat merupakan kesempatan emas untuk menyalurkan aspirasi teman-teman dan warga yang tak berani bicara. Aktivis adalah penyambung lidah rakyat. Jika pertanyaannya rakyat yang mana, maka kita tidak boleh memukul rata semua orang puas dengan kepemimpinan satu orang. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang mengeluh atas kepemimpinan Presiden sejak sebelum Pak Jokowi. Hal ini wajar, biasa. Lalu aktivis-aktivis ini bertugas memperjuangkan apa yang mungkin masih dianggap belum menjadi fokus pekerjaan pemerintah. Ada kaum yang diperjuangkan.

Tidak semua netizen setuju dengan pendapat di atas. Pasti akan ada yang nyinyir 'Tidak begitu caranya mengekspresikan pendapat,' 'Kemana intelektualnya sebagai mahasiswa? Saya juga tidak suka dengan beberapa kebijakan Presiden, tapi saya tahu sopan santun.' Begitulah beberapa nyinyiran di sosial media yang terus bertebaran tiada henti. Pujian juga celaan terus datang menyerang Zaadit.
Jadi aktivis itu berat, dinyinyirin dunia maya juga dunia nyata. Harus siap dibenci dan dicap sembarangan. Antek-antek partai politik lah, aksi pesananlah, niatnya promosi organisasi ekstranya sampai numpang tenar cari tambahan followers biar dikira kekinian.

Netizen, don't judge someone stranger. Apakah dari aksi Zaadit yang sekali itu lantas pantas bagi kita yang belum memberikan solusi pada negeri ini  memaki-maki. Apalagi cacian dengan kata-kata kasar. Apakah kalian sudah tahu betul isi hati dan isi pikirannya sesaat sebelum beranjak dari kursi? Sudah memastikan dia hanya ingin ketenaran?

Jika kita kontra dengan sikapnya tidak perlu menanggapi berlebihan. Apalagi sampai menjadi penyebar kebencian. Wajar saja mahasiswa UI lain marah dengan sikap Zaadit, wajar pula mahasiswa UI sebagian lain mendukung aksi Ketua BEM-nya, wajar Bapak Jokowi bersikap tenang, wajar Paspampres mengamankan Zaadit, wajar followersnya bertambah gila-gilaan, wajar banyak yang menganggap UI The Real Kampus Perjuangan sementara lainnya menganggap UI sudah tak lagi ilmiah.

Semuanya wajar saja kok. Bapak Rumah Kepemimpinan yang membesarkan Zaadit ikut angkat bicara. "Itu menyampaikan aspirasi dengan sensasi dengan maksud menarik perhatian. Menurut saya biasa saja. Tak ada yg istimewa untuk dikomentari." Ujar Mahfud Md.

Harusnya jika merasa ilmiah mari kita membahas konten aspirasi yang dibawa Zaadit, bukan sibuk mengartu merah aksi nekad Zaaditnya saja. Kira-kira bagaimana cara mengatasi campak di Asmat, mengapa suara mahasiswa akhir-akhir ini kentara sekali sengaja dibungkam dan bagaimana caranya supaya mahasiswa kritis tetap bersuara tanpa anarkis, juga perjuangan independensi militer kita dari pengaruh politik praktis yang di masa lalu diperjuangkan mati-matian tapi sekarang hendak dibangkitkan.

Pada akhirnya orang-orang yang belum merasakan sensasi perjuangannya menjadi aktivis akan mudah mengolok-olok aksi nekad Zaadit. Beberapa mahasiswa UI merindukan pemimpin lamanya yang turun dengan hormat mengantongi 90% kepuasan rakyat atas kinerjanya selama menjabat. Namun sebagai sesama aktivis mereka sering berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Mujab tahu benar cara bijak menjawab serbuan netizen yang sedari kemarin mendesaknya angkat bicara tentang penerusnya tersebut. Dalam tulisannya, Mujab mengatakan kartu kuning pantas didapatkan oleh pemerintah sekaligus BEM UI jika tidak bekerja untuk rakyat Indonesia dan kartu kuning untuk dirinya sendiri. Sebuah tulisan independen yang diposting Mujab di akun media sosialnya akan membuka mata netizen supaya tidak menilai setiap aksi hanya dari satu jenis kacamata saja.

Tidak akan berkurang kontribusi UI kepada negeri hanya karena keberanian ketua BEM-nya ingin suaranya didengar. UI tetap memberikan sumbangsih berarti bagi Indonesia. Semoga aksi Zaadit membawa dampak baik bagi pergerakan mahasiswa, bukan bersanding ramai dengan kasus pelakor yang baru dilabrak anak di bawah umur. Ya, kartu kuning memang pantas kita terima jika diam saja melihat Indonesia yang tidak baik-baik saja.
Read More

Saturday, February 3, 2018

3 Pertimbangan Penting Saat Pikiran Suicide Muncul

Gambar 1. Depresi

Maaf ya lama sekali nggak pos. Padahal udah lama komitmen ngeblog. Entah kenapa setiap ketemu temen yang bisa diajak ngobrol, nyambung diajak berkicau soal politik-penyakit-ekonomi-bisnis sampai gosip perceraian dan pelabrakan dunia selebriti rasanya males banget nulis. Ya, mungkin karena aku sudah menemukan pelampiasan dari rasa dongkol maupu  kebingunganku. Oke, tapi aku gaboleh kaya gini terus. Namanya belajar ngeblog ya harusnya aku menghabiskan waktuku di depan laptop. Nulis apapun asalkan membuat blogku tetap hidup. Duh, maafin ya blog-ku, kamu jadi sakit-sakitan gini gak keurus kaya yang punya.
Sebenarnya hari ini aku mau nulis tentang isu anget banget yang baru kemarin memanas. Seputar pemuda pemberani yang ‘nekad’ mengacungkan buku lagu UI berwarna kuning setelah meniup peluit di depan Bapak Presiden kita yang terhormat, Ir. H. Joko Widodo. Wiuh, gila banget gak sih tuh aksinya. Tanpa komando dan aba-aba, Pasukan Pengaman Presiden yang tubuhnya pada bongsor itu langsung nangkepin dia.
Eits, tapi kayanya aku mau nulis opini soal abang Zaadit yang aksinya gak selucu Bang Radit pas kena kamera di sini deh. Aku mau coba menulis buat pertama kalinya di idntimes.com. You should know di sana kalo nulis dapet upah eheheh. Bukan karena sini berkarya cuma pas butuh duit aja lo ya. Ini lebih karena desakan penasaran. Apakah tulisanku yang potensial dibaca lebih banyak orang akan diberi tanggapan kontroversial atau hanya satu warna suara saja.
Sebagai gantinya, sekarang aku mau cerita tentang betapa pentingnya hidup sehat Whizzer. Beberapa hari yang lalu aku pergi ke konselor dan menceritakan tentang semua perasaan yang aku alami belakangan ini. Konselor cantik yang mata dan senyum ramahnya tak bisa ku lupakan itu bertanya ‘kamu mending mana. Sehat fisik atau jiwa.’ Tanpa pikir panjang aku sih milihnya jiwa ya. Karena aku sendiri ngrasain akibat pikiran yang tidak sehat, jiwa dan fisikku melemah terus menerus sampai akhirnya aku harus datang ke tenaga profesional. Sekarang aku punya alasan kuat kenapa aku harus semangat menjalani hidup ini.

  • Merugikan Orang Lain

Aku tau banget orang kalo udah putus asa, bingung, sedih pikiran atau niatan suicide pasti sering terlintas. Para guru dan ustadz bilang bertumpuk kata mutiara dari sumber A, B, C juga gak ngefek banyak. Mainstream. Ya aku tau karena sudah sering banget ngalamin.
Itu adalah titik di mana aku lebih suka menghabiskan waktu menonton video band-band metal progressive dan soft rock dengan jalan cerita di video clip yang menyakitkan seperti cerita hidupku daripada mendengarkan ceramah atau nasehat dari orang-orang yang dianggap ‘baik dan suci.’
Maksudku bukan aku menganggap mereka tidak memiliki peran penting dalam kehidupan orang-orang yang stress berat. Kami ini ada di titik membutuhkan rangkulan dan dukungan. Kalau tidak sanggup memberi maka jangan mengadili atau melabeli kami. Sungguh, itu bukan tindakan bijak sekalipun kalian menganggapnya perbuatan mulia untuk menolong kami.
Gambar 2. Pelarian Depresi pada Obat-obatan
Alasanku harus tetap semangat hidup sehat adalah jika aku terus-terusan terpuruk dalam perasaan bersalah atau negative feeling lainnya maka aku ini jahat banget sebenernya. Aku merugikan orang lain. Siapa yang bisa menjamin besok temanku mengalami masalah hidup yang sangat berat, lalu dia pas barusan melihat aku serta sikapku pada kehidupan. Dia terinspirasi. ‘Ih kok kayaknya enak ya ijin kuliah melulu alasan sakit,’ ‘Kok kayaknya lebih baik aku nyerah aja sama hidup ya.’
Ketika aku depresi untuk pertama kalinya, yaitu sewaktu aku masih duduk di bangku SMA aku mengganti status Blackberry Messenger –maklum, dulu belum ada IG sama WA- menjadi “depressed.” Aku justru makin bersalah ketika ada 2 orang temanku kemudian mengikutiku jejakku. Mereka sama-sama sedang depresi. Meskipun depresinya mereka sama sekali tidak dipicu olehku, tapi membuat mereka menikmati rasa downnya adalah suatu kesalahan bagiku. Jadi ku putuskan mulai sekarang aku tidak boleh merugikan orang lain lagi. 
  •  Mengorbankan Orangtua

Aku memang bukan anak yang baik. Cara bicaraku pada orangtua tidak sopan, aku tidak tanggap atas semua perintah mereka. Bahkan ku akui aku sering tidak menyukai mereka. Namun suicide bukanlah tindakan terbaik sebagai solusi masalah. Prinsip dan alasan utama bertahanku adalah tidak merugikan orang lain. Sementara setelah menyerah pada keadaan, aku akan membuat kedua orangtua ku malu setengah mati.
Di dunia para tetangga pasti diam-diam mengolok-olok ibu ‘Eh tau nggak sih bu, Bu X ini lo anaknya bunuh diri. Katanya sih gara-gara kebutuhan sekolahnya nggak pernah dikasih sama orangtuanya. Yaampun orangtua macam apa sih dia itu. Udah anaknya mati bunuh diri yang satunya kuliah nggak lulus-lulus. Makanya bu kalau belum bisa didik anak gak usah bikin anak.’
Ya, aku udah mikir sampe kaya gitu. Betapa ingin ku sobek saja mulut mereka yang omongannya ngaco begitu. Ini sih bukan halusinasi atau ketakutanku aja ya. Kalo kalian udah pernah hidup deket masyarakat pasti tau dong daerah yang ibu-ibunya terdidik membicarakan ide ketika ngumpul dengan daerah yang para wanitanya menggosipin tetangga bahkan kerabat dekatnya sendiri secara sadis lebih banyak mana populasinya. Aku kasihan sama orangtuaku kalo dijadiin korban.
Ada sebuah hadits dan Firman Allah SWT yang melarang kebiasaan bergunjing alias gossip. Kebiasaan ini diibaratkan memakan bangkai saudaranya sendiri. Jijik sih, tapi nyatanya gossip renyah sampai dijadiin bisnis. Gak suka ah. Apalagi kalo orangtua ku yang diomongin gak bisa didik anak. Padahal suicide emang udah jadi pilihanku, sekeras apapun orangtuaku memberi arahan. Mereka sok tau. Kejemmm banget sok taunya. 

  •  Lebih Banyak Orang Kecewa

Alasanku ingin meninggalkan bumi adalah merasa sudah mengecewakan banyak orang, tidak berguna, ngrepotin, dan semua hal-hal buruk. Sekarang entah apakah ini akibat dari beranjak dewasa atau Tuhan yang mengirimkan ilhamNya.
Aku pikir ketika aku tiada akibat bunuh diri, maka akan semakin banyak orang yang kecewa padaku. Para dosen yang senang berdiskusi denganku, teman yang suka hang-out meski cuma  beli cilok di seberang gedung perkuliahan, kakak tingkat yang berharap aku bisa dikader, kakak organisasi yang berharap organisasi itu bisa berkembang berkat hadirnya generasi baru, penjual nasi langgananku yang omsetnya akan menurun, sampai para haters yang akan merasa bersalah dan kesepian karena bingung mau ngebully atau nyetalk abis siapa lagi.
Gambar 3. Pikiran Mengakhiri Hidup Sendiri pada Orang Depresi
Pada akhirnya aku akan mengecewakan lebih banyak orang jika menyerah begitu saja. Jadi aku harus bertahan. Aku harus bertahan meskipun sakit. Meskipun keras dan tak mudah. Aku tidak perlu bercerita detail masalahnya ku rasa. Ini blog, bukan diary. Oke. Yang terpenting orang-orang yang sedang terpikirkan untuk suicide bisa mempertimbangkan tiga hal ini.

Aku tau, memikirkan hukum agama di saat kondisimu sangat buruk malah akan membuatmu tertekan. Maka bebaskan. Bebaskan sebebas-bebasnya. Kamu hidup di dunia tidak boleh egois. Kamu boleh suicide, tapi pastikan juga tidak ada orang lain yang akan bersedih berhari-hari sampai nafsu makannya turun lalu jatuh sakit akibat bersedih atau merasa bersalah.

Silahkan suicide asal kamu sendiri juga bisa menjamin tidak ada efek negatif lain yang kamu sebarkan ke orang lain dan kamu sendiri juga yang akan memastikan tidak akan ada orang yang dirugikan akibat terinspirasi kisahmu kemudian dia mengikuti langkahmu menjemput kematian yang sebenarnya belum tentu membahagiakan.
Read More

Wednesday, January 31, 2018

Mengenal Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang

Hari ini saya akan menceritakan tentang jurusan yang saya ambil di perkuliahan, Pendidikan Luar Biasa. Bersyukur rasanya ketika melihat lebih banyak respon positif daripada negatif ketika orang—orang tahu saya berkuliah di jurusan yang masih tergolong asing di Indonesia ini. 

Pendidikan Luar Biasa dari harfiahnya sudah bisa dibayangkan akan banyak bersinggungan dengan orang-orang luar biasa (disabilitas). Orang-orang yang oleh Tuhan diciptakan memiliki kondisi tidak pada umumnya baik sejak lahir maupun akibat kecelakaan sewaktu sudah dewasa. 

Sekilas kami tampak seperti para pekerja sosial yang merawat orang-orang dengan iba. Tapi di sini kami tidak diajari menumbuhkan iba dari orang normal supaya anak luar biasa tetap dapat bertahan hidup. 




Di Indonesia, sudah ada lebih dari 10 perguruan tinggi yang membuka program studi Pendidikan Luar Biasa. Salah satunya adalah kampus saya, Universitas Negeri Malang yang terletak di Jalan Semarang No 05 Kota Malang. Di sini PLB masuk ke dalam Fakultas Ilmu Pendidikan, fakultas tertua di UM yang telah menghasilkan para guru terbaik di tanah air. 

Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang masih baru berdiri pada tahun 2010, sehingga masih tergolong prodi baru. Namun prestasi serta pertumbuhan prodi ini tergolong amat cepat. Dalam waktu kurang dari 10 tahun PLB UM memiliki Professor, mendapatkan kunjungan studi banding dari salah satu universitas terkemuka di Malaysia, mengadakan seminar internasional, memiliki jurnal internasional sendiri (ICSAR Journal) bahkan sudah berani membuka prodi serupa untuk pascasarjana.

Pembelajaran di Pendidikan Luar Biasa UM banyak memadukan antara teori dengan praktek. Bahkan para alumninya sudah hampir berhasil membuat Sekolah Luar Biasa baru untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Desa Madiredo, Pujon yang kebanyakan datang dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Selanjutnya, SLB ini dikelola bersama dengan mahasiswa aktif yang bersedia menjadi volunteer setiap hari Ahad. 

Ada prinsip kuat yang dipegang oleh para pejabat akademik PLB UM. Prinsip ini ‘Lebih baik kekurangan dosen daripada dosen yang mengajar tidak memenuhi standar kualitas profesional.’ Sehingga di jurusan ini hampir semua dosennya masih impor dari jurusan lain. Beberapa dosen muda yang melamar dan ternyata nilai tesnya tidak memenuhi target akan tetap ditolak betapapun jurusan sedang sangat membutuhkan tambahan tenaga pengajar. 

Akibat prinsip di atas pulalah banyak dosen asli lulusan PLB yang aktif harus menambah banyak jam mengajar supaya semua kelas serta angkatan mendapatkan pelayanan pendidikan setara serta terbaik.
Dari segi akademik perkuliahan, jurusan Pendidikan Luar Biasa UM ini sama-sama menuntut kemampuan sosial humaniora dengan ilmu alam. Beberapa mata kuliah yang membuat PLB istimewa adalah neuroscience, enterpreneurship, penjas adaptif, dan anatomi fisiologi. 

Jadi selain mendapatkan ilmu mengenai cara penanganan anak normal maupun anak berkebutuhan khusus, mahasiswa juga bisa hidup mandiri baik secara finansial maupun kesehatan fisik dan mental.

Peluang Kerja Terbuka
Salah besar jika orang awam menganggap lulusan Pendidikan Luar Biasa akan kesulitan mencari pekerjaan. Di sini mindset yang ditanamkan oleh para dosen tidak terbatas bagaimana cara menjadi guru yang baik dan disenangi anak-anak. Para mahasiswa diberi brainwash bahwa setelah lulus nanti bisa bekerja di ranah apa saja, asalkan tetap komitmen mengabdi untuk kebutuhan pendidikan khusus di Indonesia. 

Mendirikan sekolah luar biasa baru, menjadi pejabat pemerintah, pengusaha dan yang lainnya tidak masalah asalkan bermanfaat bagi masyarakat. Namun walaupun tampaknya pasrah terhadap kehendak Tuhan, nyatanya banyak sekali mahasiswa semester atas yang bahkan belum lulus sudah dipesan oleh SLB maupun Therapy Center dan keluarga untuk menangani anak-anak spesial mereka.

Saking tingginya kebutuhan lulusan Pendidikan Luar Biasa di Indonesia yang oleh BPS Tahun 2010 dinyatakan 10% dari jumlah penduduk Indonesia keseluruhan, para dosen PLB UM bahkan sampai bingung harus mencarikan mahasiswa yang sudah selesai masa studinya karena memang jumlahnya sangat tidak seimbang dibandingkan kebutuhan lapangan.

Jika mahasiswa memiliki nilai plus seperti menguasai bahasa asing, maka peluang untuk melebarkan sayap ke luar negeri juga terbuka lebar. Di luar negeri Pendidikan Luar Biasanya sudah sangat maju. Sebut saja Amerika Serikat dan Finlandia. Menyadari hal-hal tersebut tadi di PLB UM mahasiswa diajarkan seluruh jenis hambatan pada anak berkebutuhan khusus. 

Harapannya dengan menyiapkan ketrampilan mengatasi seluruh jenis hambatan, tidak akan ada alasan ‘saya dulu waktu kuliah tidak mengambil autis’ padahal saat itu seluruh pendidik di SLB tersebut kewalahan mengatasi anak dengan hambatan autis tersebut, sementara anak berhambatan lain sudah tertangani dengan baik.

Read More

Sunday, January 7, 2018

Naskah Orasi di Depan Calon Mahasiswa

Assalamu’alaykum Wr Wb
Assalamu’alaykum Wr Wb
SMAPTA!
Ribuan tahun lalu ada seorang pemuda yang memiliki tekad mempersatukan nusantara di bawah satu bendera panji Majapahit. Semua pelajar kita tahu siapa namanya. Gajah Mada. Seorang pemuda yang menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara di zamannya memiliki visi jauh ke depan. “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.” Yang kemudian dijadikan pegangan bagi segenap rakyat Indonesia setelah merdeka.
Bayangkan jauh di zaman itu orang-orangnya telah memahami keadaan bangsanya untuk kemudian menyusun strategi mempersatukan semua golongan. Lantas apa yang terjadi di zaman kita dewasa ini seharusnya sudah cukup menyentakkan kesadaran. “Apa yang sudah saya berikan untuk bangsa ini atas kesegaran air yang diberikan sebagai penghidupan, atas sinar matahari yang membuat bangsa lain berdatangan kemari, atas tanah yang katanya secuil turunan surga, atas seluruh kekayaan alamnya yang seperti gadis seksi dan membuat Indonesia diincar bangsa-bangsa asing.” Jangan menutup mata, bekas kejayaannya ada di bumi tempat kita semua berpijak hari ini. Kediri.
Pernahkah kawan-kawan di sini bersedih, tiba-tiba insomnia ketika mendengar emas-emas kita yang terbaik di dunia diambil oleh orang asing sedangkan masyarakat di sekitarnya masih terbelakang dalam pendidikan dan kesejahteraan. Pernahkah kawan-kawan merasa marah setiap hari terjebak kemacetan sementara cuaca dan udaranya panas, pengap, penuh polusi lalu berpikir keras jalan keluar model apa yang dapat aku sumbangkan untuk menyelesaikan keruwetan jalanan? Dan pernahkah kawan-kawan bingung kesana-kemari mencari referensi untuk mencarikan solusi atas pertikaian-pertikaian yang tercipta akibat berebut rupiah di panggung politik? Semuanya akan mulai terasa pada saat kita menjadi mahasiswa.
Jika ada Bapak Ibu di jajaran akademik mengatakan ‘belajar yang rajin saja ya nak, jangan macam-macam.’ Maka dengan lembut mari kita iyakan ‘iya Bapak/Ibu. Kami tentu akan belajar memahami realitas, membaca lebih banyak buku untuk mencari jawaban atas kebingungan-kebingungan mengapa kehidupan memberikan banyak sekali permasalahan.’ Menjadi maha dari sekian tingkat jenjang sekolah formal akan memberimu rasa lega sekaligus syukur. Bukan untuk dipamerkan karena sudah memiliki almamater bergengsi. Bukan. Ini semua adalah babak dimana pengabdian dimulai.
Turut bersedih ketika mendengar wacana baru dilontarkan oleh pemerintah setiap tahunnya. Beberapa diantaranya direalisasikan kepada anak-anak kelas 3SMA yang hendak masuk ke perguruan tinggi. Jika saat ini yang jurusannya IPA benar-benar dilarang masuk ke perguruan tinggi lintas jurusan maka dengan kasih sayang kami jelaskan kondisinya kepada adik-adik.
Indonesia, melalui Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) tahun 2015, berkomitmen ikut agenda pembangunan global pada kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG). Kerangka itu ialah perpanjangan program Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal/MDG) yang selesai tahun 2015 lalu.
Indonesia kita sudah terlambat 8-10 tahun dalam pelaksanaan MDG, sehingga belum mampu mencapai target 19 indikator dari 67 indikator MDG. Indikator yang tidak tercapai antara lain mengurangi penduduk miskin, menekan kematian ibu melahirkan dan meminimalkan jumlah balita bergizi kurang. Sebagian besar dari indikator di atas ada dalam sektor kesehatan, namun dipicu berbagai sektor lain seperti pendidikan, sanitasi dan keterbatasan infrastruktur. Kegagalan pencapaian target MDG juga disebabkan kurang dilibatkannya kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha. Data ini diambil dari Kompas tahun 2016.
Jadi kami sendiri yang sudah duduk di perguruan tinggi pun berharap adik-adik menjadi generasi pencetus inovasi solutif, bukan hanya mengomentari. Sering ada intermezo di kalangan kami sendiri. Tanpa menyepelekan anak IPS karena saya sendiri juga IPS katanya negeri ini sudah terlalu banyak lulusan IPS. Itu mengapa lebih banyak penduduk berkomentar daripada memberi jawaban dari problem sosial. Kita butuh lebih banyak pengembang teknologi, arsitek, dokter, dan berbagai disiplin ilmu dalam rumpun alam dan teknologi untuk menjadikan Kediri semetro Jakarta, sesejuk Malang, seromantis Bandung. Nanti jika sudah di perguruan tinggi, adik-adik tidak akan sempat mengeluh lagi karena semua ini realitas yang harus dihadapi.
Silahkan adik-adik nanti tanyakan kepada kakak-kakak yang ada di sini. Apakah pernah mendengar dosennya menjelaskan tentang kebutuhan Indonesia. Visi  rencana pembangunan jangka panjang nasional 2005-2025 adalah Indonesia yang maju, adil, dan makmur. Memang hanya 3 kata saja, tapi usaha mewujudkannya memerlukan kerjasama dari semua pihak  termasuk kaum muda. Dan kaum muda yang banyak menjadi tumpuan adalah mahasiswa. Kenapa? Selain karena memang semangat  muda biasanya menggebu-gebu untuk merubah dan memperbarui kondisi yang membosankan. Mahasiswa adalah golongan muda yang punya intelektualitas, yang jumlahnya pun mengerikan bila bersatu, dan kita datang berbagai disiplin ilmu kebutuhan negara serta tersebar di berbagai wilayah negara ini.
Adik-adikku, ada saatnya dimana keluhan-keluhan kita kepada pemerintah yang terlihat semakin mempersulit, merepotkan akan berganti menjadi ucapan ‘Oke, saya sadar keadaannya dan saya siap jadi agen perubahan itu.’ Tidak rindukah kita semua pada cerita ayah bunda, kakek nenek tentang betapa dulu Indonesia dapat menjadi macan Asia, diplomatnya disegani di kancah internasional, berasnya kita swasembada. Sekarang? Jangankan beras swasembada malah muncul beras plastik, impor garam sampai tenaga kuli saja kita impor dari asing. Di bangku perkuliahan ketika nanti kita sudah menyandang gelar ‘mahasiswa’ perlahan-lahan kita akan mengerti mengapa semua hal itu terjadi. Sehingga kita tidak sempat menyalahkan pemerintah atau pihak tertentu atas kondisi yang terjadi.
Iklim mahasiswa adalah iklim ilmiah. Selamat datang di dunia penuh dinamika dan hampir segalanya dapat dijelaskan. Ketika nanti jam tidur mulai berkurang terus menerus demi  tugas-tugas kuliah, demi meneliti kasus baru, demi mengutak-atik barang di laboratorium mohon tutup mulut supaya tidak terus terusan mengeluh. Anggap saja ini semua demi balas jasa kepada tanah air kita. Atas seringnya cengingisan kita saat upacara hari Senin sepanjang 12 tahun padahal pemuda pendahulu kita rela bertikai dengan golongan tua serta menghadapi militer asing beberapa negara hanya demi mengatakan satu kalimat ajaib “Indonesia merdeka dan berdaulat.”
Merdeka!
Jangan sampai kemudian kita acuh terhadap kondisi bangsa ini. Jangan sampai kita jadi manusia yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Setiap hari menghirup udara hasil pohonnya Indonesia tapi enggan terlibat memperbaiki tatanan kehidupannya malah merusak. Kontribusi tidak selalu harus berdampak besar langsung saat itu juga. Satu per satu, selangkah demi selangkah. Kita mulai dari  diri sendiri. Sikap, manajemen waktu, manajemen hati, manajemen hidup yang visioner yang sudah tahu satu-tiga-lima-sepuluh tahun ke depan akan menjadi manusia seperti apa.
Coba di sini adik-adik siapa yang sudah punya rancangan mau kuliah dimana? Angkat tangan!
Yang sudah pasti kerja!
Yang sudah yakin dengan cita-citanya akan menjadi apa, dimana dan kapan?
Yak. Kami ucapkan selamat datang di dunia mahasiswa. Di mana bila kita enggan keluar dari zona nyaman semasa kuliah, hanya pulang pergi kuliah-mall-cafe saja maka bersiaplah menjadi onggokan pengangguran. Kecuali jika Tuhan berbaik hati menjodohkan kita dengan pasangan mapan. Itupun tidak menjamin. Bagi adik-adik yang memilih kuliah di jurusan berprospek menjanjikan ‘katanya’, hari ini kami katakan. Jaminan itu jadikan motivasi saja. Jika pasar membutuhkan lulusan jurusan itu dan siap menggaji tinggi maka bukalah pikiran kalian, pasti bukan hanya kalian saja yang tergiur mendapatkan posisi tertentu tersebut. And welcome to the jungle.
Dunia pekerjaan kejam, akan ada saatnya kita terpaksa menjegal teman sendiri demi sebuah posisi. Maka persiapkan amunisimu lebih dini. Mari mengambil peran, mari menjadi generasi intelektual yang bukan hanya mencaci tapi juga memberi solusi. Jika berkeras tidak mau terlibat maka kita tidak pantas marah saat koruptor sekelas Setya Novanto semakin menjadi-jadi, atau tanah lapang semakin sempit, beras semakin mahal, biaya sekolah bertambah, dan pada akhirnya tibalah di zaman umur matang tapi nikah menjadi barang mewah. Jangan salahkan keadaan karena pengutukanmu tidak akan merubah apapun. Lebih baik mari kita akhiri dengan menyanyikan lagu wajib mahasiswa yang melegenda. Totalitas Perjuangan. Semoga Tuhan meridhoi niat baik kita dalam memilih perkuliahan.
 Wassalamu’alaykum Wr Wb
Read More

Wednesday, October 18, 2017

Mahasiswa UM Melayani Anak Berkebutuhan Khusus di Desa Tersembunyi



Menjadi luar biasa memang butuh air mata, keringat bahkan darah yang harus dikorbankan sebelum mencapainya. Kira-kira ucapan dari Bapak Mantan Presiden ke-3 RI, Ing. B.J Habibie bikin aku tidak gampang tertarik dengan hasil-hasil menggiurkan tanpa proses. Keinstanan memang menggoda, tapi ibarat mie instan, proses itu tidak menyehatkan sama sekali. Hanya saja memberi kepuasan sesaat, kenyang sebentar.

Dahulu ketika sedang menempuh pendidikan sejak SD-SMA, aku punya banyak cita-cita yang ku pikir semuanya tinggi. Aku tidak ingin menyebut diriku sendiri tidak tahu diri, tapi marilah kita sama-sama membangun mental positif dan percaya kita juga bisa menjadi apa yang kita impikan. Bukankah Tuhan telah mengizinkan kita bermimpi? Lantas kenapa harus ragu kalau impian-impian besar terlalu muluk?
Jendela Depan SLB Tamima Mumtaz

Membanggakan Indonesia?
Memberikan warna pada kehidupan orang lain ternyata tidak harus dengan kita menjadi pengendali kekuasaan di negara ini. Pikiran simpel yang baru aku pahami pada saat di bangku perkuliahan mendorong kami untuk take action daripada hanya sekadar menyusun mimpi sistematis. Selama ini kami berani bermimpi, tapi belum tahu keajaiban bagaimana yang akan diturunkan Tuhan agar harapan-harapan baik itu bisa menjadi kenyataan.


Membuat orang lain dalam suatu lingkungan tersenyum karena merasa kondisi hidupnya sudah lebih baik merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kami, dan kamu pastinya. Apalagi kalau melihat mereka semakin mendekatkan diri pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukurnya, sensasi kalau ternyata keberadaan kita useful bakalan lebih plus-plus.


Di sini aku ingin bercerita tentang action yang udah aku dan teman-teman serta kakak-kakak dari HMJ PLB UM (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang) berikan untuk masyarakat. Yakan kembali lagi ke tridharma perguruan tinggi –ceilah, ala PKKMB- dimana tridharma ketiga,  yaitu pengabdian belum menjadi bagian dari jiwa mahasiswa sekarang. Aku tidak bermaksud menjudgement siapapun karena ini sebenarnya juga notes for myself. Mungkin kalau nggak diajakin sama kakak-kakak yang super inspired ini aku juga gak akan ikutan ngasih kontribusi.
Pasti kamu kalau ditanyain “Kenapa Indonesia harus bangga punya kamu?,” “Yakin udah pantes disebut putra bangsa?” “Udah pernah ngasih apa aja buat Indonesia” dan sederet pertanyaan semacam itu pasti akan muncul ketika kamu berusaha ngedapetin beasiswa, terutama yang sumbernya dari Pemerintah atau lembaga swasta lain yang memang sudah profesional. Yap. Dulu ketika aku masih masa perjuangan reaching beasiswa ini itu aku juga bingung. Duh, aku mah apa atuh, ikut lomba lolos tingkat nasional aja belum, apalagi ngasih medali buat harumin nama negara.

Pikiran seperti itu udah pantes dibilang kolot. Bukankah perubahan besar dimulai dari step-step kecil? Walaupun dikit, tapi real and clear kita ngasih impact ke lingkungan. Itu udah bagian dari membantu usaha pemerintah membangun negara. Iya kan? Lingkungan yang kita bikin senyum itu bagian dari Indonesia kan? That’s why we should remain holding our commitment to serve our sector passion.

OTW Mendirikan SLB
Oke deh, sekarang aku mau langsung cerita apa sih yang udah diusahakan sama HMJ PLB UM buat mendidik putra putri bangsa ini. Well, jadi guru reguler dibanding guru anak luar biasa pastinya tak ternilai. Kita sama-sama dobel dapetnya, akhirat dan dunia. Tapi proses mendidiknya tentu beda. Di sini kelebihannya guru hasil outcome dari Pendidikan Luar Biasa. Kita bisa terjun untuk anak regular maupun anak luar biasa. But,  nowadays beberapa jurusan pendidikan sudah dibekali materi untuk persiapan menjadi guru sekolah inklusif.

Salah Satu Siswa Autis-Low Vision
Ini adalah kegiatan kami ketika berada di Desa Madiredo, Pujon. Pastinya harapan awal kami ingin mendirikan Sekolah Luar Biasa di sana. Namun karena beberapa kendala seperti biaya pembangunan dan operasional, tenaga, sampai waktu jadinya anak-anak yang lucu ini hanya bersekolah pada hari Sabtu dan Ahad. –Ahad sama dengan Minggu.

Jika ada murid 7 termasuk sudah mencukupi dan memang cukup layak disebut sebagai SLB karena telah memungkinkan diselenggarakannya kelas belajar pembelajaran. Namanya juga murid luar biasa, selalu memberikan tantangan yang luar biasa pula kepada siapa saja yang bermaksud terjun menyentuh mereka. Kadang tidak semua orangtua telaten menyekolahkan anaknya meski hanya dua kali dalam sepekan. Tidak semua anak juga memiliki tingkat perhatian dan minat bersekolah tinggi. Dari sini aku sadar, tidak perlu jauh-jauh mencari tempat terpencil di perbatasan Indonesia-Malaysia kalau ternyata di daerah-daerah yang masih masuk Pulau Jawa juga banyak kekurang merataan kesempatan.
Bagian Dalam SLB Tamima Mumtaz

Sementara itu, beberapa anak sangat bersemangat sekolah. Meskipun terkadang harus dijemput dulu ke rumahnya karena keluarganya tidak ada yang mengantar lalu menunggu pendidik sampai datang ke Balai Desa Madiredo –tempat SLB sementara . Melihat senyum di wajah mereka, mengingat ketika mereka menarik tangan kita dan meminta bimbingan menuju SLB Mumtaz –nama SLB sementara- semangat kita justru bertambah lagi. “Ayo sekolah” Ucapan seperti itu benar-benar menjadi pemicu bagi kami para volunteer.

Para murid di sana tidak memiliki hambatan yang sama. Ada yang tunaganda (Ketunaan dobel), autis, low vision (Tuna netra yang masih punya sisa penglihatan meski bendanya harus didekatkan), tunadaksa (Ketunaan pada bagian anggota gerak tubuh), dan tunagrahita (IQ di bawah rata-rata).

Memberi Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
Yusuf, seorang penyandang autis sekaligus low vision yang dulunya waktu pertama kali mahasiswa kami menyentuh desa tersebut dia tidak banyak bicara. Karakter pendiam, tidak merespon, tapi sebenarnya bisa bahkan cerdas itu adalah salah satu ciri anak autis. Ada kepuasan tersendiri pada saat anak mengalami peningkatan dalam hal apapun. Bagi kami, mengajarkan akhlaq atau tata krama bagi anak luar biasa lebih penting daripada memaksa mereka harus sama seperti orang lain. Kemudian setelah itu, barulah mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan psikomotor (keterampilan).




Mengenalkan mereka kepada nama buah, hewan, melempar bola, mengucapkan salam, berkasih sayang sesama teman dan mengajari angka serta alphabet adalah bagian dari usaha kami. Anak luar biasa membutuhkan pengulangan-pengulangan alias repetition pada saat dia mempelajari sesuatu yang baru. Jika guru tidak telaten, sama-sama kasihan antara anak dan guru itu sendiri. Oleh sebab itulah kami juga berusaha all out melayani kebutuhan khusus mereka.

Kakak dari salah satu ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sering membelikan es krim di ujung jam kelas. Stimulus seperti ini bisa membiasakan diri anak mandiri mengurus dirinya sendiri seperti makan tanpa bantuan orang lain.
sumber: dok pribadi
Ada satu anak bernama Putri yang membuatku ingat lagi betapa pentingnya apresiasi terhadap karya orang lain. Putri ini seorang tunadaksa juga tunagrahita. Umurnya sudah 9 tahun tapi tubuhnya sangat kurus kering karena tidak tumbuh secara sempurna. Untuk mandi saja dia masih bergantung kepada ibunya. Namun dia menyadarkan kami akan nilai “Kalau ingin dihargai maka hargailah orang lain.” Setiap Putri berhasil menyebutkan nama buah atau sukses melakukan instruksi lain dari guru, dia selalu meminta orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan untuknya.

Putri belum bisa bicara, lidahnya sangat pendek. Jadi dia menepuk lantai atau memegang orang yang belum memberi tepuk tangan untuk keberhasilannya. Sehingga kami terbiasa memberi apresiasi tanpa diminta sebagai bentuk penghormatan atas usaha orang tersebut, baik benar atau salah, sesuai ekspektasi atau tidak.

A Circumstance
Lalu bagaimana awal mulanya mahasiswa UM bisa menjadi pendidik di Desa https://visitmadiredo.wordpress.com/2016/01/29/visit-madiredo/. Dulunya tempat ini menjadi lokasi KKN kakak tingkat sebelumnya. Kami juga melihat ada beberapa Universitas selain www.um.ac.id yang pernah menjangkau tempat tersebut. Beberapa peninggalan berupa mainan dan media ABK adalah sumbangan dari mahasiswa www.ub.ac.id dan www.uns.ac.id. Setelah itu HMJ PLB UM beserta dosen di sini berinisiatif melanjutkan pemberian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sana.
Jalan Menuju Desa Madiredo


Ibu Lurah Desa Madiredo sampai saat ini masih mengusahakan dukungan sarana prasarana yang lebih mendukung demi kemajuan penyelenggaraan pembelajaran. Hingga kini pun kami sebagai volunteer masih mencari ke sana-ke sini bantuan buku untuk materi anak TK, supaya anak-anak di sana punya lebih banyak pengalaman nyata dalam usahanya mengenal dunia di mana setiap benda punya nama dan setiap kejadian ada ceritanya.

Jangan ditanya dikasih gaji berapa buat rasa capek Kota Malang-Pujon dua kali sepekan. Bukannya masing-masing dari kita juga butuh liburan, ada tugas kampus, harusnya jatah pulang kampung? Okedeh. Don’t bothered the other. Jangan ngrepotin temen kamu yang udah jaga komitmen melayani anak berkebutuhan khusus dengan hal-hal egois. Kalau kita tulus ikhlas dan berkomitmen inshaallah pasti ada aja keberkahannya kok. Seriusan deh. Bisa jadi lebih lancar saat memahami materi di kelas, lebih dekat sama dosen, atau semakin dekat sama jodoh –eh. Soal liburan, slow man slow, pelayanan bukan mengasingkan diri kok. Madiredo yang terbilang terpencil ini indah banget. Ala hawa kaki pegunungan gitu.


Hawa Adem Sepanjang Perjalanan


Kami adalah tim. Kalau memang ada yang harus izin ya izin nggak dateng, thus yang lainnya ngegantiin dateng ngajar anak-anak. Kalau gak ada yang bisa, mari kita sama-sama ingat harapan mereka dan orang-orang di Madiredo tentang bisa sekolahnya anak-anak ABK itu. Otomatically kalau masih normal, pasti ada beban moral dong ya. Iya, jaga komitmen itu susah, bukan Cuma komitmen pernikahan, tapi juga komitmen jadi bagian dari  volunteerpujon.

Well done. Sampe sini makasih banget udah nyimak cerita kami sebagai volunteer anak berkebutuhan khusus di Pujon. Semoga manfaat ya, btw kalau ada informasi tentang donatur buku yang tadi komen dong atau email boleh.  Doain semoga segera ada SLB formal di sana :-) Let's bright our environment.
Read More